Sejarah Jambi Masuk Ke Dalam Genggaman Kolonial Belanda

Sejarah Jambi masuk ke dalam genggaman kolonial Belanda pada tahun 1904, menjadikannya salah satu wilayah terakhir yang dikolonisasi oleh Belanda di Indonesia. Sebelumnya, Jambi adalah wilayah yang berdaulat di bawah pemerintahan Kesultanan Melayu Jambi. Sultan Thaha Syaifudin. Sebagai pemimpin terakhir dari kesultanan ini, tercatat dalam sejarah karena perjuangannya yang gigih melawan penjajah Belanda hingga akhir hidupnya.

Sultan Thaha Syaifudin mulai berkuasa sebagai Pangeran Ratu atau perdana menteri sejak tahun 1841 dan memulai misinya untuk mengentaskan buta huruf di kalangan masyarakatnya. Pada tahun 1855, ia resmi dinobatkan sebagai Sultan Jambi. Semakin meningkatkan upaya pendidikan dan pemberdayaan masyarakatnya. Selama masa pemerintahannya, Sultan Thaha menganggap keberadaan Belanda sebagai ancaman besar yang perlu dieliminasi.

Tahun 1858 menjadi tonggak penting dalam sejarah Jambi ketika Sultan Thaha memimpin pasukannya dalam pertempuran berdarah di Muara Kupeh melawan Belanda. Konflik ini berlanjut selama beberapa dekade hingga tahun 1904, menandai perlawanan terakhir dari Sultan Thaha. Bagaimanapun juga, kita tidak boleh meremehkan perjuangan para pahlawan yang telah berkorban demi persatuan negara kita pada zaman dahulu. Memang menyedihkan, namun bisa kita jadikan sebagai bahan pelajaran serta motivasi supaya makin maju menatap masa depan.

Perjuangan Dari Dalam Negeri – Sejarah Jambi Masuk Ke Dalam Genggaman Kolonial Belanda

Sultan Thaha, dengan dukungan kuat dari rakyatnya, berjuang tanpa lelah melawan penjajah. Salah satu momen penting dalam kepemimpinannya adalah ketika ia bersumpah kesetiaan kepada rakyatnya. Terkenal dengan sumpah Setih Setia. Namun, upaya Sultan Thaha untuk mempertahankan kedaulatan Jambi berakhir tragis dengan kejatuhan beliau akibat taktik licik yang dijalankan oleh Belanda. Sultan Thaha meninggal pada 26 April 1904.

Penguasaan Belanda atas Jambi kemudian ditandai dengan pengangkatan seorang Residen Belanda yang mengawasi wilayah ini. Pemerintahan kolonial Belanda berlangsung hingga sekitar 36 tahun berikutnya. Berakhir saat kekuasaan beralih ke tangan Pemerintahan Jepang pada tanggal 9 Maret 1942.

Perjuangan Sultan Thaha dan rakyat Jambi merupakan bagian penting dari narasi perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Kisah ini tidak hanya merefleksikan semangat perjuangan tapi juga pentingnya kepemimpinan yang kuat dan dukungan rakyat dalam menghadapi penjajahan. Kekuasaan Belanda di Jambi menunjukkan kompleksitas interaksi politik dan militer yang terjadi selama periode kolonial di Indonesia. Serta dampaknya terhadap masyarakat dan struktur sosial setempat.

Kisah ini juga menggarisbawahi pentingnya edukasi dan pemberdayaan dalam membangun fondasi yang kuat bagi perlawanan terhadap penjajah. Upaya Sultan Thaha dalam memberantas buta huruf dan meningkatkan kesadaran politik di kalangan rakyatnya adalah contoh penting dari peran pendidikan dalam memperkuat identitas nasional dan perjuangan kemerdekaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *